ACTRESS VIDEO

Adsense Indonesia

LINK EXCHANGES

Blog Archive

Custom Search
Showing posts with label Liga Eropa. Show all posts
Showing posts with label Liga Eropa. Show all posts

Mourinho Ajak Drogba Reuni di Real Madrid




Didier Drogba sedang menimang keputusan untuk bereuni dengan Jose Mourinho di Santiago Bernabeu setelah The Special One memanggilnya.

Pelatih Real Madrid itu kabarnya menyodorkan kontrak berdurasi dua tahun agar salah satu pemain kesayangannya selama di Chelsea itu mau bergabung lagi bersamanya.

Penyerang berkewarganegaraan Pantai Gading tersebut baru saja menjadi pahlawan pemberi Trofi Liga Champions bagi The Blues, dan dulunya dibawa ke Stamford Bridge oleh Mou di tahun 2004.





Drogba sendiri saat ini sedang mendapatkan banyak tawaran setelah memastikan tidak memperpanjang kerja samanya dengan Chelsea yang akan berakhir di bulan Juni ini.

Juventus klub dari Serie A Italia sudah memberikan penawaran, klub Jerman dan Rusia disebut juga ada yang meminatinya. Belum lagi klub China, Shanghai Shenhua. (dym/lex)

Bola.net, Bola Indonesia

03:15 | 0 comments | Read More

Inilah Perasaan Mancini Setelah Mengalahkan Ferguson




The Sun memasang judul "Miracle Manc" ketika menurunkan laporan mengenai jatuhnya Piala Liga Inggris ke tangan Manchester City secara dramatis.

"Manc" di situ bisa berarti Manchester City, bisa juga berarti (Roberto) Mancini.

Mancini adalah pelatih yang menyulap City menjadi juara Liga Inggris di era --seperti disebut The Sun sebagai -- "Fergie Time".

Alex "Fergie" Ferguson adalah pelatih fenomenal yang membawa dominasi Manchester United di Liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir.





Semuanya mulus sampai kemudian Mancini mendarat di Etihad untuk memoles Aguero dkk. Itu adalah gelar Liga Inggris buat City setelah puasa 44 tahun silam.

Sampai menit ke-90, mahkota Liga Inggris milik MU yang mengalahkan Sunderland 1-0. Keajaiban datang pada masa injury time ketika Edin Dzeko dan Aguero mencetak dua gol dalam tiga menit untuk membawa City unggul 3-2 atas QPR.

Ajaib, dramatis, tapi itulah sepak bola. Sepak bola sesungguhnya adalah drama.

"Saya merasa seperti sudah berusia 90 tahun," kata Mancini, pelatih asal Italia, melukiskan perasaannya tentang pertandingan yang menegangkan tersebut.

Saking tegangnya, beberapa kali Mancini terlihat jongkok di tepi lapangan.

"Anda tidak bisa membayangkan pertandingan final seperti ini," katanya tentang pertandingan yang dimulai dengan skor 1-0 untuk City, lalu 2-1 untuk QPR yang bertanding dengan 10 pemain.

"Ini akhir yang gila pada musim yang gila. Saya kira ini tak bisa dipercaya. Saya tidak pernah merasakan pengalaman seperti ini sepanjang karier saya," kata Mancini yang kepalanya disiram bir oleh Dzeko saat merayakan trophy Liga Inggris.

Mancini membawa warna baru di Liga Inggris. Semula hanya ada Manchester Merah. Sekarang ada Manchester Biru.(*)

Tribunnews

22:33 | 0 comments | Read More

Ferguson Ucapkan Selamat pada Manchester City




Manajer Manchester United Sir Alex Ferguson mengucapkan selamat atas berhasilnya Manchester City menjadi jawara Premier League musim ini.

Pasukan Sir ALex sempat yakin bakal menjadi jawara. Pasalnya saat laga United kontra Sundeland usai dengan kemenangan 1-0 City masih tertinggal 1-2 dari QPR. Tapi dalam lima menait waktu tambahan, ternyata City membalikkan keaddan. Pemain Manchester United pun urung bersorak.





"Saya mewakili Manchester United mengucapkan selamat untuk tetangga kami. Ini adalah liga tersulit di dunia dan siapapun yang menang layak mendapatkannya," kata Ferguson.

"Tak ada yang menyangka itu, semua berpikir City akan menang, tapi mereka melakukan itu dengan menghadapi 10 pemain lawan dan waktu tambahan lima menit," ujar Fergie.

Tribunnews

22:32 | 0 comments | Read More

Sepak Bola adalah Drama, Inilah Contohnya




Bila tanpa injury time lima menit, juara Liga Inggris musim ini adalah Manchester United, bukan Manchester City.

Tertinggal 1-2 dari tim lemah yang terancam degradasi, QPR, Manchester City mampu membalikan keadaan dan meraih gelar Liga Inggris setelah 44 tahun.

Sepak bola memang kerap melahirkan sebuah drama. Ibarat tontonan telenovela, pendukung tim yang bertarung di lapangan dapat menangis berlinang air mata, dapat pula mereka tertawa riang gembira. Momen-momen seperti itu tidak bisa lepas dari kegigihan 22 manusia yang bertarung dalam lapangan bola. Tak ada kata menyerah, apalagi lelah di benak mereka.





Jutaan pasang mata publik pencinta sepak bola dunia tidak akan pernah lupa, salah satu comebackpaling dramatis di Eropa dalam final Liga Champions 2005 yang menghadirkan AC Milan lawan Liverpool. Aura positif ribuan Milanisti karena timnya unggul 3-0 di babak pertama, harus berubah tatapan kecewa karena pada akhirnya harus pulang dengan tangan hampa setelah Liverpool mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3, dan menang lewat adu penalti.

Lebih dramatis lagi, ketika duo "Super Sub" Manchester United, Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solksjaer, mengubah rencana pesta Bayern Muenchen menjadi duka di final Liga Champions 1999. Tak tanggung-tanggung, "Setan Merah" hanya membutuhkan 2 menit di masa injury time, untuk menghancurkan harapan Muenchen yang sebelumnya sudah unggul 1-0 di waktu normal 2 x 45 menit.

Di kancah negara, drama itu pun masih menjadi tontonan menarik yang sering kali membuat bulu kuduk merinding. Menyambut Piala Eropa yang semakin mendekati hari H, tepatnya 8 Juni 2012, situs resmi UEFA merilis delapan comeback terbaik sepanjang sejarah Piala Eropa. Berikut comebackterbaik tersebut:

Semifinal 1960 (Perancis): Perancis 4-5 Yugoslavia
Ketika itu Perancis diunggulkan karena bertindak sebagai tuan rumah. Apalagi ketika itu "Les Bleus" dipimpin oleh bomber maut Just Fontaine (akhirnya menjadi top scorer dengan 5 gol). Namun, hal itu tidak membuat nyali pemain Yugoslavia menciut. Dalam partai itu, sembilan gol tercipta. Meski sempat unggul 2-1 di paruh pertama, Yugoslavia memberikan perlawanan di babak kedua.

Perancis gantian unggul 4-2 setelah Heutte menceploskan gol pada menit ke-63. Namun, petaka datang pada 15 menit terakhir. Gol yang dicetak Knez dan Jerkovic (2 gol) membuyarkan Perancis menjadi juara di tanahnya sendiri.

Semifinal 1976 (Yugoslavia): Yugoslavia 2-4 Jerman Barat.
Ketika itu pendukung tuan rumah di Crvena Zvezda Stadium, Belgrade, sepertinya sudah yakin negaranya mampu mencapai partai puncak. Bagaimana tidak, hingga dua menit terakhir, Yugoslavia masih unggul 2-1. Namun, petaka datang ketika Dieter Müller yang baru masuk di babak kedua menyamakan kedudukan pada menit ke-88.

Laga kemudian harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Lagi-lagi, sukacita penonton berubah menjadi duka. Muller menjadi pahlawan ketika dua golnya pada menit ke-115 dan 119 mampu meloloskan Jerman ke partai puncak.

Semifinal 1984 (Perancis) : Perancis 3-2 Portugal
Unggul semenjak menit ke-24 berkat gol Jean-Francois Domergue, Perancis harus rela diimbangi pada menit ke-75. Skor itu pun bertahan hingga 90 menit berakhir. Di babak tambahan, pendukung Portugal bersorak setelah Jordao membuat gol keduanya sekaligus membawa "A Seleccao" unggul 2-1.

Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Pada menit ke-114, Domergue kembali mencetak golnya untuk mengubah angka di papan skor menjadi 2-2. Ketika sepertinya laga akan dilanjutkan ke adu penalti, Michel Platini menjadi pahlawan Perancis karena mencetak gol satu menit menjelang akhir babak tambahan pada menit ke-119.

Penyisihan Grup 2000 (Belanda-Belgia): Yugoslavia 3-3 Slovenia.
Bermain di partai pertama grup C, Yugoslavia akan melawan Slovenia. Beberepa orang memprediksi Yugoslavia akan mampu menang mudah dalam pertandingan ini. Akan tetapi, Slovenia tampil mengejutkan karena mampu unggul 3-0 lebih dulu. Untung saja, Milosevic dan kawan-kawan tampil sigap. Tiga gol yang dicetak Milosevic (menit ke-67, 73) dan Ljubinko Drulovi (70) akhirnya menyelamatkan muka Yugoslavia dari kekalahan.

Penyisihan Grup 2000 (Belanda-Belgia): Portugal 3-2 Inggris
Pendukung Inggris sepertinya sudah yakin lolos ke putaran final setelah Paul Scholes dan Steve McManaman mampu membuat negaranya unggul 2-0 hanya pada kurun waktu 18 menit. Namun, Portugal mampu bangkit ketika Luis Figo mencetak gol pada menit ke-22, disusul gol Juan Pinto (37) dan Nuno Gomez (59). Tiga gol itu memupuskan harapan Inggris karena berada di posisi tiga klasemen akhir Grup A.

Penyisihan Grup 2000 (Belanda-Belgia): Yugoslavia 3-4 Spanyol
Pertandingan terakhir Grup C. Spanyol wajib menang atas Yugolavia jika tidak ingin tersingkir dengan cepat dari putaran final. Yugoslavia unggul lebih dulu berkat gol Milosevic pada menit ke-30. Tak berselang lama, Alfonso menyamakan kedudukan pada delapan menit kemudian.

Namun, Govedarica kembali membuat Yugoslavia unggul 2-1. Setelah itu, giliran Munitis yang menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Suasana semakin tegang setelah Komljenovic kembali membuat pendukung Yugoslavia bergembira setelah mencetak gol pada menit ke-75. Yugoslavia lolos? Tidak. Gol dari Alfonso (menit ke-94/penalti) dan Mendieta (96) di masa injury time akhirnya membawa Spanyol menang 4-3 dan lolos ke babak selanjutnya.

Penyisihan Grup 2004 (Portugal): Belanda 2-3 Republik Ceko
Belanda yang menjadi unggulan juara dalam turnamen kali ini sempat unggul 2-0 lebih dulu berkat gol Bouma (menit ke-4) dan Ruud van Nistelrooy (19). Namun, gol Jan Koller di pertengahan babak pertama menjadi mimpi buruk Belanda. Kartu merah John Heitinga di babak kedua membuat semangat Ceko melecut. Walhasil, sudah bisa ditebak, Ceko mampu membalikkan keadaan menjadi 3-2 setelah Milan Baros dan Vladimír Smicer dua kali membobol gawang Edwin Van Der Sar.

Penyisihan Grup 2008 (Austria-Swiss): Turki 3-2 Ceko Republik
Kedua tim membutuhkan kemenangan agar dapat lolos ke babak 16 besar. Hingga menit ke-74, Ceko unggul 2-0 berkat gol Jan Koller dan Jaroslav Plasil. Suasana tegang pun menghampiri ribuan pendukung Turki di stadion Stade de Genève. Secercah harapan muncul setelah Arda Turan memperkecil kedudukan menjadi 1-2 pada menit ke-75. Setelah itu, apa yang terjadi? Turki hanya butuh waktu dua menit di akhir pertandingan untuk membalikkan keadaan menjadi menang 3-2 berkat dua gol Nihat Kahveci (menit ke-88, 89).(KOMPAS.com)

Tribunnews

22:12 | 0 comments | Read More

Roberto Di Matteo Beri Isyarat Tinggalkan Chelsea




Pelatih sementara Chelsea Roberto Di Matteo memberi isyarat akan meninggalkan klub tersebut jika tidak mendapatkan kontrak jangka panjang.

Pemilik Chelsea, Abramovic, dikenal suka memecat pelatih. Di Matteo tentu saja menginginkan jaminan masa depan.

Kontrak Di Matteo akan dievaluasi pada musim panas mendatang setelah mempersembahkan Piala FA dan juara Liga Champions ke Stamford Bridge.





The Sun melaporkan, pelatih asal Italia berusia 41 tahun itu memiliki rumah di Midlands ketika masih menjadi bos West Brom dan kemungkinan tertarik untuk menjadi Pelatih Aston Villa.

Chief Executive Chelsea Ron Gourlay dikutip mengatakan "Kami tahu Robbie dapat pergi ke mana saja tapi dia tahu kami sedang menangani masalah (kontrak) ini. Dia tahu kami akan segera membicarakannya beberapa hari ke depan atau beberapa pekan ke depan dan Robbie akan menjadi orang pertama yang diajak bicara."

Para pemain senior Chelsea mendukung Di Matteo tapi itu sama sekali tidak memberikan jaminan bagi masa depannya di Chelsea.

"Pemilik (Abramovic) dan dewan akan memutuskan yang terbaik," kata Gourlay.

Tribunnews

22:01 | 0 comments | Read More

Di Matteo Kecewa Pada Manajemen Chelsea




Roberto Di Matteo mengancam takkan menandatangani kontrak baru dengan Chelsea. Pelatih asal Italia itu kecewa pada sikap manajemen The Blues yang hanya memberinya kontrak satu tahun.

Pelatih 41 tahun itu percaya telah membuktikan kualitasnya dengan mengantar Chelsea menjadi juara Piala FA dan Liga Champions. Mantan pelatih West Bromwich Albion itu hanya mau tanda tangan kontrak yang bersifat jangka panjang dengan The Blues.





Di Matteo kabarnya juga tertarik dengan jabatan pelatih Aston Villa yang masih kosong saat ini. Sebelumnya, mantan klub Di Matteo, Lazio juga menawari jabatan pelatih.

Tribunnews

21:37 | 0 comments | Read More

Final Liga Champions 2012, Meski Jatuh-Bangun Chelsea Tak Akan Menyerah




Chelsea menjuarai gelar Liga Champions pertama mereka 2011-2012 setelah menang atas Bayern Muenchen melalui adu penalti, pada laga final, di Allianz Arena, Sabtu (19/5/2012). Chelsea menang secara dramatis, mengingat mereka sempat tertinggal dan mendapat sanksi penalti.

Chelsea tertinggal lebih dulu akibat gol Thomas Mueller pada menit ke-83. Dua menit sebelum memasuki injury time, Chelsea menyamakan kedudukan melalui Didier Drogba.

Skor 1-1 bertahan hingga akhir babak normal dan kedua kubu pun memainkan babak tambahan. Pada babak ini, Chelsea masih lebih sering tertekan. Chelsea bahkan terkena hukuman penalti, setelah pelanggaran Drogba terhadap Ribery pada menit ke-95.





Namun, kiper Petr Cech membuat angka di papan skor tak berubah. Ia berhasil menghentikan bola tembakan Arjen Robben di luar garis gawang. Setelahnya, Chelsea masih kesulitan mengalirkan serangan, tetapi mampu memaksa tuan rumah memainkan adu penalti.

Chelsea kembali lebih dulu berada dalam keadaan tertekan. Setelah eksekutor pertama Bayern, Philipp Lahm, berhasil menyarangkan bola di gawang Cech, tembakan orang pertama Chelsea, Juan Mata, ditepis Manuel Neuer. Probabilitas hasil akhir kembali imbang berkat antisipasi Cech terhadap tembakan eksekutor keempat Bayern, Ivica Olic.

Peruntungan Chelsea tampak semakin membaik ketika tembakan terakhir Bayern yang dilepaskan Bastian Schweinsteiger membentur tiang kiri gawang. Bayangan kemenangan Chelsea menunjukkan wujud nyatanya setelah tembakan Didier Drogba mendesak sudut kanan bawah gawang Neuer.

"Kami memiliki semangat luar biasa. Aku telah bermain untuk Chelsea selama delapan tahun dan sebagai pemain Chelsea, Anda diajarkan untuk tidak menyerah sampai akhir. Ini adalah hari yang luar biasa," ujar Drogba.

"Aku sangat bangga akan setiap orang di sini. Pertandingan tadi tidak mudah, tetapi aku yakin pertandingan akan diselesaikan lewat adu penalti. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Aku tak tahu harus berbuat apa," timpal Cech.

Senada dengan Cech, Ashley Cole mengatakan, "Aku kehabisan kata-kata. Aku pikir, kami akan kalah, tetapi kami mengubah nasib. Kami layak menjadi pemenang laga tadi. Dengan pemain yang ada saat ini, kami selalu yakin."

KOMPAS.com

01:54 | 0 comments | Read More

John Terry: "Berikan Posisi Pelatih Tetap pada Di Matteo"




Apa lagi bukti yang harus diberikan kepada Roman Abramovich? Dua gelar, bahkan salah satunya gelar terelit di Eropa, sudah dipersembahkan oleh Roberto Di Matteo, hanya dalam waktu 2,5 bulan setelah menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat.

John Terry, kapten yang alpa dalam permainan dimana timnya menang atas Bayern Muenchen melalui drama adu penalti dalam laga final Liga Champions, Sabtu (19/5/2012), meminta klub segera memberikan posisi pelatih kepala kepada Di Matteo. Terry mengatakan Di Matteo pantas memperoleh status pelatih kepala atas kerja kerasnya




"Robbie memang luar biasa sejak dia datang. Anda lihat trofi itu. Itu adalah hal yang tentu kami nantikan, yang pemilik nantikan, yang membuat pemilik meneteskan air mata," katanya kepada The Sun.

"Dia berusaha keras untuk ini, dia menggelontorkan banyak uang pada klub sepak bola ini untuk mencapainya. Malam ini, kami telah melakukannya dan Robbie pantas untuk mendapatkan penghargaan atas itu. Kami berharap dia memperoleh status pelatih tetap. Dia luar biasa. Memenangi Piala FA dan Liga Champions," tambahnya kemudian.

Hal senada juga disampaikan oleh Petr Cech. Kiper andalan "The Blues" itu mengatakan sudah cukup bukti yang diberikan oleh Di Matteo bahwa pelatih berusia 41 tahun itu memang mampu menjadi pelatih kepala.

"Apapun yang terjadi padanya, dia telah meraih dua gelar dan dia pantas untuk (status tetap) itu. Saya pikir dia telah cukup berusaha untuk mendapatkan status itu namun sekarang ini terserah jajaran direktur untuk memutuskan," ungkapnya.

Pengakuan dan seruan dari kedua pemain lawas Chelsea itu dibenarkan pula oleh pelatih Bayern Muenchen, Jupp Heynckes. Pelatih berusia 67 tahun itu mengakui kehebatan Di Matteo dan mengatakan bahwa pelatih asal Italia itu pantas menjadi manajer bagi Terry dan kawan-kawan.

"Jika saya pemilik klub, saya akan memberikan kontrak tiga tahun kepada Di Matteo," tuturnya singkat.

KOMPAS

01:45 | 0 comments | Read More

Chelsea Serius Pertimbangkan Di Matteo




Direktur Utama Chelsea Ron Gourlay memuji prestasi fenomenal Roberto Di Matteo. Namun, ia masih enggan bicara soal kontrak permanen Di Matteo sebagai pelatih "The Blues".

Transformasi yang disajikan Robbie --sapaan Di Matteo-- demikian fantastis. Baru mengambil kendali dari Andre Villas-Boas pada Februari lalu, pria berusia 44 tahun langsung menjawan tantangan dengan gelar kampiun Piala FA dan 15 hari berselalu, trofi Liga Champions 2012 di kandang juara Eropa empat kali Bayern Muenchen.




"Beberapa bulan ini sungguh luar biasa dan diakhiri dengan sesuatu yang besar: juara Liga Champions. Banyak "naik-turun" di musim ini. Kami memulai dengan baik tapi peride buruh dialami pada Nopember hingga Januari," ucap Gourlay yang dikutip Sky Sports News.

"Performa dan hasil-hasil (buruk) itu membuat kami harus melakukan perubahan, kami mengajukan Robbie sebagai pelatih pengganti hingga akhir musim dan kami mengalami perubahan fenomenal. Kami punya beberapa hal yang dapat dijadikan alasan dan kami akan mengulasnya sebagai bahan keputusan kami nanti," lanjut Gourlay.

Sang ketua klub, Bruce Buck, meyakinkan, keputusan menempatkan Di Matteo sebagai pengganti Villas-Boas adalah hasil pertimbangan serius sebelumnya.

"Robbie melaksanakan tugasnya dengan luar biasa. Ia mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan membuat semuanya kembali ke puncak performanya," tandas Buck yang dikutip Guardian dan BBC.

"Kami melupakan sejenak (spekulasi soal siapa pelatih Chelsea selanjutnya) untuk 6-8 pekan dan fokus pada Barcelona, Piala FA, dan Bayern Muenchen. Saya pikir sekarang kami harus duduk bersama. Nama Roberto ada di dalam kantong kami, ia sudah melakukan tugasnya dengan baik, dan kami akan serius mempertimbangkannya," lanjut Buck.

Buck menutup dengan menyatakan, pelatih baru Chelsea akan segera diumumkan sebelum klub itu memulai aktivitasnya berbelanja pemain.

KOMPAS

01:42 | 0 comments | Read More

Drogba: Saya Hanya Ingin Buat Senyum Chelsea Mengembang




Ingatan Didier Drogba masih menerawang ke Moskow 2008 ketika mengambil tempat duduk, mendengar dirinya dinobatkan sebagai man-of-the-match final Liga Champions, dan mulai melayani pertanyaan para jurnalis, Sabtu atau Minggu (20/5/2012) dinihari WIB.

Berikut petikan wawancara Drogba seusai partai puncak final Liga Champions di Muenchen:

Apakah Anda masih ingat memori Moskow 2008?

Kenangan di Moskow sangat menyulitkan, sangat menyakitkan bagi kami, dan malam ini kami berhasil melupakan semuanya. Kami sudah berjuang memberikan segalanya. Semuanya tertulis, saya pikir, bertahun-tahun lalu. Saya telah bersama klub ini selama delapan tahun dan kami selalu nyaris (meraih gelar juara Champions), tak pernah jauh darinya. Sekarang, setidaknya, kami sudah memenanginya. Semua akhirnya kembali pada kami di Stamford Bridge. Rasanya paling menyenangkan dari apapun yang pernah saya rasakan.




Apa yang Anda rasakan ketika akan mengambil penalti penentuan?

Saya percaya diri. Sebelum menembaknya saya berpikir tentang apa yang terjadi di Piala Afrika dimana saya dapat memenanginya untuk Pantai Gading tapi gagal. Rasa beratnya sama tapi kemudian saya berpikir harus mencetak gol mengingat segala penyelamatan yang dilakukan Petr Cech. Ketika Anda punya pemain seperti dia di bawah mistar Anda harus percaya. Saya ingin membuat gol bagi Cech dan rekan-rekan lainnya. Saya hanya ingin membuat senyum Chelsea mengembang dan melupakan segala kekecewaan dan tangisan yang pernah kami alami.

Apakah trofi Liga Champions adalah cara Drogba mengucap selamat tinggal?

Saya tak tahu masa depan akan membawa saya kemana. Saya hanya gembira telah memenangi trofi ini. Itu adalah malam bersejarah bagi klub ini.

Apakah Roberto Di Matteo akan mengambil keputusan berdasarkan momen emosional ini?

(Roberto) Di Matteo pernah mengalami tekanan yang lebih berat tapi saya pikir ia belum mampu melaksanakan tugas (sebagai pelatih Chelsea) untuk waktu yang lama. Sekarang, saya dapat tenang berlibur. Tantangan berat yang saya alami dalam tiga bulan terakhir. Menanyakan masa depan Di Matteo kepada saya adalah hal irelevan dan Anda tahu apa yang saya diskusikan dengan bos (Roman Abramovic) akan tetap bersifat pribadi.
Saya ingin membuat gol bagi Cech dan rekan-rekan lainnya. Saya hanya ingin buat senyum Chelsea mengembang dan melupakan segala kekecewaan dan tangisan yang pernah kami alami.
-- Didier Drogba

KOMPAS

01:40 | 0 comments | Read More

Masukkan email address anda untuk mendapatkan berita terbaru:

Delivered by FeedBurner

Add to Google Reader or HomepagePowered by FeedBurnerSubscribe in Bloglines